Senin, 17 Agustus 2015

Bolaang Mongondow

                                                        Bolaang Mongondow
                                                        ( Buta' Kon Sigadnya )                                                         

Secara geografis daerah Bolaang Mongondow berada dilokasi strategis, jika dahulu letaknya diantara 2 kabupaten yaitu kabupaten Gorontalo dan kabupaten Minahasa, kedepan jika menjadi provinsi Bolaang Mongondow Raya maka letaknya diantara 2 provinsi yaitu provinsi Gorontalo disebelah barat dan provinsi Sulawesi utara disebelah timur/utara, selain itu diapit oleh 2 lautan yaitu laut sulawesi disebelah utara dan laut maluku disebelah selatan dimana kedua lautan itu bermuara ke samudera pasifik.
Selain letaknya tersebut diatas, Bolaang Mongondow saat ini berada diantara harapan akan arah pencapaiannya kedepan dengan realitas kondisi objectivenya saat ini, maka tidak berlebihan jika kita sebut Bolaang Mongondow dalam bahasa daerah......Buta' Kon Sigadnya (Tanah Diantara) menariknya juga sejarah daerah ini pernah dipimpin oleh seorang raja yang disebut Datu Pinonigad (Raja Diantara). 

Bolaang Mongondow buta' kon sigadnya
Kon sigad Golontalon bo Minahasa
Kon sigad Kotabunan bo Labuan Uki
Kon sigad Buyat bo Taluda'a

Kon sigad poigar bo andagile
Konsigad Tudu Silagondo bo bulud Ambang
Kon sigad Paloko bo Kinalang
Kon Sigad Bogani bo Mododatu

Kon Sigad Mododatu bo ki Tuang kolabung mako
Kon Sigad ki Tuang kolabung mako bo Bobato masa in na'a
Kon Sigad mogolad ikolom bo touma'
Kon sigad monompia bo moposindog 

Bolaang Mongondow (PBMR) buta' im mogoguyang naton
       Doc Google
Oleh karena letaknya itulah kemudian kita dapat lebih memahami kenapa Bolaang Mongondow secara kultural tidak dapat melepaskan diri dari tarik menarik dengan budaya lain khususnya yang berbatasan langsung dengan daerahnya.
Walau bahasa, adat istiadat didominasi oleh suku mongondow, tapi sesungguhnya bolaang mongondow terdiri dari beberapa subsuku yang mempunyai bahasa dan adat istiadat sendiri seperti suku Bintauna, Bolaang Uki, Kaidipang, Lolak, Bantik dll. Sehingga jika ada suara suara merdu ataupun sumbang berasal dari sub suku tersebut harus difahami sebagai suatu kontribusi atau koreksi dalam memperkaya khasanah kemajemukan Bolaang Mongondow sebagai sebuah entitas yang telah teruji dalam perjalanan sejarah daerah ini.

Bentuk pemerintahan, gaya kepemimpinan, prioritas pembangunan, boleh berubah mengikuti tuntutan zaman, tapi pertanyaan paling mendasar apakah penyelenggara pemerintahan didaerah ini baik eksekutif, legislatif, maupun yudikatif telah mempunyai suatu konsep pembangunan  secara menyeluruh (comprehensive) yang mencakup semua aspek kehidupan dengan mempertimbangkan keunggulan komparatif dari kekayaan sumber daya manusia/alam, kondisi geografis maupun kebudayaan yang dimilikinya, sehingga  jelas arah dan tujuan pencapaiannya agar tidak terjadi disharmony dikelak kemudian hari, bak kompas penunjuk arah agar penggunanya tidak tersesat atau salah arah.

Konsep pembangunan (Master Plan) itu harus dituangkan dalam bentuk cetak biru secara detail baik teknis maupun non teknis dan diharapkan mampu menjawab maupun mengantisipasi permasalahan Bolaang Mongondow puluhan  tahun ke depan, dengan berlandaskan pemetaan terhadap masalah ekonomi, politik, sosial, budaya, agama,  pendidikan, hukum, sumber daya alam, sumber daya manusia, lingkungan hidup, dll, sehingga terjamin suatu pembangunan berkesinambungan, bersinergi, tidak polutif tapi solutif terhadap masalah-masalah yang muncul dikelak kemudian hari.

Pemekaran wilayah Kabupaten Boolaang Mongondow menjadi 4 kabupaten dan 1 Kota Madya bukan berarti tidak menimbulkan masalah jangka pendek maupun jangka panjang terhadap seluruh wilayah Bolaang Mongondow secara keseluruhan mengingat proses pembentukan Provinsi Bolaang Mongondow Raya masih tersendat dan belum dapat terwujud dalam waktu dekat, sehingga keadaan ini dapat dilihat lebih sebagai pembonsaian wilayah Bolaang Mongondow dalam arti fisik.
Masalah yang dikhawatirkan adalah pembangunan fisik akan terjadi secara partial oleh masing2 kabupaten/kota dikarenakan tidak ada yang mengkoordinasi (tanpa mengecilkan peran pemerintah provinsi Sulut tapi lebih kepada fokusnya yang dimaksud) dalam pembangunan diwilayah tersebut, RTRW kabupaten yang ada lebih pada menyajikan angka2 sumber daya manusia dan sumber daya alam tanpa membuat analysis atas data2 tersebut yang dapat dituangkan dalam sebuah perencanaan teknis yang lebih detail beserta peraturan2nya serta membuat action plan disesuaikan dengan anggaran dan proritas tanpa keluar dari konsep yang ada. 

Banyak hal-hal konkrit yang semestinya bisa diwujudkan untuk mengantisipasi permasalahan-permasalahan yang kelak timbul dikemudian hari terkait dengan pembangunan di Bolaang Mongondow dalam waktu dekat, Secara  empiris kita tidak melihat didaerah Bolaang Mongondow (4 Kabupaten, 1 Kota Madya), khususnya di setiap kecamatan tersedianya fasilitas umum seperti pemakaman, karena pada umumnya pemakaman yang ada semuanya milik keluarga.
Padahal kedepan dengan perkembangan manusia maka kebutuhan akan tanah untuk perumahan atau lainnya menjadi sesuatu yang utama, jika suatu waktu tanah pemakaman itu dijual kemana alternatif pemindahan jasad yang tinggal tulang belulang itu akan dipindahkan, belum lagi jika tanah tersebut merupakan tanah sengketa entah apa jadinya....wallahu a'lam bi shawab.
Demikian pula di pesisir pantai utara, selagi belum terlambat agar segera dibuat peraturan-peraturan daerah yang mencegah terjadinya eksploitasi disepanjang pesisir pantai utara, karena pantai utara mempunyai barier alamiah yang mencegah intrusi air laut masuk ke daratan, jika tidak maka ini akan menjadi bencana bagi masyarakat pesisir karena dampaknya pada lingkungan, kesehatan maupun ekonomi.

Pemerintah Daerah (4 kabupaten/1kota) juga harus proaktif menselaraskan rencana pembangunan yang akan dikerjakan dengan rencana pemerintah pusat dalam hal pembangunan/peningkatan/perbaikan irigasi, pembangunan/peningkatan pelabuhan, penambahan kapasitas daya listrik, pembangunan jaringan kereta api Trans Sulawesi, utamanya agar jaringan kereta api itu dapat melalui seluruh ibukota kabupaten/kota di Bolaang Monhondow,
Branding Bolaang Mongondow sebagai lumbung padi hendaknya dikembangkan menjadi lumbung pangan termasuk didalamnya lumbung perikanan dan lumbung peternakan mengingat potensi kedua terakhir ini  belum digarap secara serius, kedepan pemerintah harus segera memfasilitasi dengan membangun infrastruktur terkait dengan hal ini  disamping peningkatan dari sektor2 lainnya seperti pertambangan, pariwisata dll, agar kedepan PAD Bolaang Mongondow bisa meningkat dan dapat menjadi tulang punggung pembiayaan pembangunan daerahnya sendiri dengan ditunjang fasilitas yang dibangun oleh pemerintah pusat seperti telah dikemukakan diatas.

Mungkin ada relevansinya nasehat orang-orang tua terhadap pengantin pria dahulu dalam suatu perkawinan jika kita proyeksikan pada konteks kehidupan masa kini maupun yang akan datang, " Aka ko ukur kon Adi', yo naai tonga' baya'an poiguman, koito' yo koito' don im batangan, tagin yo tagin don im batangan, simba' dia' mo i biasa tonga' baya'an poiguman sin moko oya'   artinya   "Bila ada rezeki mendapat anak, jangan hanya pergi meminta-minta, sagu sebaiknya sagu sendiri, pisang sebaiknya pisang sendiri, agar tidak terbiasa hanya meminta-minta karena memalukan  (sumber: suaratotabuan.blogspot.com).



Ujung Aspal 170815

                                                   


                                                        
                                                      
                                                      
















                                                     










                                        

Jumat, 01 Maret 2013

SUMPAH

                                                              SUMPAH DULU SAMPAH KEMUDIAN

Dalam cerita Mahabharata yang merupakan proloog dari Bharatayudha ada dua sosok karakter yang teguh dengan sumpahnya,  yang pertama Bisma Dewabrata dan yang kedua Adipati Karna.....sebagai ksatria keduanya dipersepsikan sebagai pembela angkara murka mengingat keberpihakan keduanya pada Prabu Duryudana, Raja Hastinapura pemimpin para kurawa yang durjana......walau begitu integritas pribadi keduanya dan penyebab keberpihakan itu lambat laun dapat mengalahkan persepsi tersebut diatas.

Bisma bersumpah dihadapan ayahandanya Raja Hastinapura disaksikan para dewata......bahwa ia akan melepaskan haknya sebagai putera mahkota untuk menjadi raja Hastinapura dan tidak akan menikah seumur hidup agar tidak mempunyai keturunan yang kelak dapat menggugat takhta Hastinapura dan tetap akan menjaga Hastinapura sampai akhir hayatnya.  
Ini dilakukan Bisma karena kecintaan kepada ayahandanya untuk memuluskan jalan dalam  mempersunting seorang wanita yang bersedia menjadi permaisuri raja dengan syarat anak keturunannya harus menjadi raja Hastinapura.

Ketika Aradea mampu menyamai Arjuna dalam uji tanding memanah yang diselenggarakan oleh guru para Kurawa dan Pandawa yaitu Begawan Dorna, para Pandawa memperolok-olok Aradea dengan mengatakan bahwa Aradea tidaklah pantas disamakan dengan Arjuna karena Aradea hanya anak seorang sais kereta. 
Saat itulah Duryudana putera Prabu Destaratra raja Hastinapura langsung berkata jika Aradea tidak pantas karena  hanya anak seorang sais maka sejak saat ini ia diangkat menjadi Adipati di Awangga dengan gelar Adipati Karna.
Adipati Karna kemudian bersumpah dihadapan mereka semua dengan disaksikan para dewata bahwa ia akan setia dan membela para Kurawa dan juga Hastinapura sampai akhir hayatnya.

Keduanya bukan tidak mendapat godaan atas sumpahnya.....jika Bisma menolak cinta dewi Amba yang ketika meregang nyawa sempat bersumpah akan membalas penolakan itu dengan meraga sukma kepada seseorang jika kelak terjadi perang antara keturunan Bharata dan disitulah ia akan membunuh Bisma Dewabrata......maka tidak kurang Kresna dan dewi Kunti ibu para Pandawa membujuk Karna agar berpihak pada Pandawa namun hal itu tidak membuat Karna berubah karena mengingat sumpahnya.
Kresna membuka tabir siapa sesungguhnya Karna, maka ketika dewi Kunti menemuinya dan menceritakan hal-ihwalnya, Karna sempat mempertanyakan kepada ibu kandungnya kenapa  dewi Kunti hanya diam saja  ketika dia diperolok-olok oleh para Pandawa sehingga berujung pada sumpahnya .......namun kepada dewi Kunti Karna berpesan untuk tidak mengatakan siapa dirinya kepada para Pandawa dan kepada dewi Kunti Karna berjanji bahwa siapapun yang akan menemui ajalnya nanti, putera dewi Kunti akan tetap lima.

Perang antara keturunan Bharata atau Bharatayudha akhirnya pecah di medan Kurusetra, Adipati Karna perlaya terkena panah Pasopati milik Arjuna pemberian Batara Syiwa......seketika itu matahari meredup cahayanya  tertutup oleh mega mendung yang disertai suara halilintar pertanda putera Batara Surya dikalahkan oleh putera Batara Indra, dewi Kunti meradang... putera yang tak pernah diasuhnya gugur oleh puteranya yang lain....jasad Karna harum bertabur bunga dewata suatu penghormatan kepada satria yang memenuhi sumpah dan janjinya.
                                             Doc. Google

Sedangkan Bisma Dewabrata seperti tak menemui tandingannya di medan laga, tak ada satu senjatapun yang mampu menembus badan raganya sampai ketika dia berhadapan dengan Srikandi yang raganya ditempati sukma dewi Amba disaat itulah Bisma menyadari akan akhir hidupnya......panah2 Srikandi memenuhi sekujur tubuhnya dan akhirnya Bisma jatuh terkulai tanpa menyentuh bumi karena tertahan oleh panah2 yang menembus tubuhnya hanya tinggal kepalanya terkulai dan kemudian diberi penyangga dari panah sebagai bantal oleh Arjuna.
                                                                  Doc.Google

Sungai Gangga berhenti mengalir sejenak, langit dipenuhi taburan bunga dewata yang harum semerbak dan Bisma diberi anugerah oleh dewata kesempatan  menyaksikan akhir Bharatayudha sebelum ajalnya tiba sebagai penghormatan kepada sesepuh Bharata yang penuh bakti kepada orang tuanya, negerinya dan teguh menjalani sumpahnya.

Cerita Mahabharata dan Bharatayudha disamping cerita wayang lainnya seperti Ramayana, Wayang Purwa, sangat kental dengan muatan Hinduisme yang kemudian bertransformasi sedemikian rupa menjadi bagian dari budaya  jawa dan sunda. Bermetamorfosis dalam bentuk wayang kulit, wayang orang, wayang golek maupun seni budaya turunannnya seperti tembang, mocopat, pitutur maupun gending-gending.....semua ini pada akhirnya terangkum menjadi sebuah budaya adiluhung sebagai landasan dalam membentuk budi pekerti luhur....... yang menempatkan kebenaran diatas kejahatan, kebaikan diatas keburukan, kehormatan diatas kehinaan, kekayaan rohani diatas kekayaan materi, keikhlasan diatas keserakahan, kesantunan diatas kesewenang-wenangan, kejujuran diatas kebohongan dst.

Sementara sumpah mendapat tempat tersendiri dalam budi pekerti luhur..... dikategorikan sebagai perilaku ksatria(orang berpendidikan) berupa ikrar pribadi yang diucapkan dihadapan orang banyak dengan menyebut nama yang Maha Kuasa, diselaraskan dalam hati, dibuktikan dengan perbuatan..... kalau tidak maka selain sangsi hukum, sangsi sosial akan dilekatkan atau melekat pada diri sepanjang hidup......belum lagi sangsi di akhirat kelak berupa azab yang amat pedih...wallahu a'lam bis shawab.

Sumpah.... dikenal sebagai sesuatu yang sakral seperti disebut diatas, dalam kehidupan nyata kita mengenal sumpah amukti palapa yang diucapkan oleh mahapatih gajah mada dari Majapahit yang bersumpah tidak akan memakan buah palapa sebelum nusantara dipersatukan.....kemudian berkembang menjadi bagian tak terpisahkan dalam keseharian kehidupan berbangsa dan bernegara di negeri ini...... dilatar belakangi oleh  beragam kepentingan dan tujuan maka jadilah sumpah itu menjadi beberapa macam dengan berbagai sebutan seperti sumpah pocong, sumpah prajurit, sumpah profesi, sumpah di pengadilan, sumpah pelantikan pejabat seperti anggota DPRD, DPR, bupati, walikota, gubernur, menteri, pejabat lembaga tinggi negara, sampai sumpah Presiden dan Wakil Presiden.......diluar itu yang tidak termasuk adalah sumpah serapah.

Sumpah saat ini sudah dimaknai lain......lihat saja mereka yang menjadi terpidana, terdakwa maupun tersangka koruptor..... baik sudah atau belum di vonis oleh pengadilan Tipikor.....pada umumnya adalah orang2 yang pernah disumpah sebagai pejabat negara.....mempunyai latar belakang pendidikan tinggi dengan berbagai gelar akademis didepan atau dibelakang namanya, dengan berbagai tampilan fisik dan gaya ......ada wajah tampan klimis, ada wajah berkumis, ada wajah dengan dahi menghitam, ada juga dengan janggut lebat, ada bergaya seperti artis, ada bergaya seperti socialita, tak sedikit yang berjilbab ditambah dengan berbagai cara bicara.....ada yang suaranya keras, ada yang suaranya lembut, ada yang merdu, ada yang falls, ada juga yang diam membisu......dan sangat mengherankan dari para terpidana, terdakwa, maupun tersangka koruptor ini, ketika diliput maupun diwawancarai oleh media seperti tidak ada rasa malu maupun bersalah.......jangankan mengucapkan tobat, kata  penyesalanpun tidak ada yang mengalir dari mulut mereka, mungkin bagi mereka sumpah yang pernah diucapkan dulu hanya bagian seremonial belaka......Sumpah dulu Sampah kemudian.....toh ini bukan akhir dari segala-galanya karena berpikir hukum bisa dibeli, penjara bisa dirubah menjadi hotel sedang sampah bisa didaur ulang.

Dalam konteks sampah bisa didaur ulang itulah yang namanya teman, sahabat, kolega, konco, loyalis, senior  malah menasehati dengan mengutip kata-kata "politikus bisa terbunuh berkali-kali"  padahal konteks persoalan yang sebenarnya bukan masalah politik tapi masalah hukum.
Politisi penyandang predikat Koruptor sama dengan bunuh diri, karena rakyat yang terciderai tidak akan pernah  melupakan pengkhianatan atas sumpah kepada bangsa, negara, terlebih kepada Tuhannya, mereka masuk golongan unwanted child ibu pertiwi Indonesia.



Ujung Aspal Maret 2013









Sabtu, 10 November 2012

Menyimak Mereka Bicara

                                                    MENYIMAK MEREKA BICARA


Terkadang baru terasa bahwa peran mereka dimasa lalu sedikit banyak ikut menentukan arah perjalanan dan sejarah  negeri ini....... ada konsistensi, ada keteladanan, ada kebanggaan, ada kehormatan, ada nama harum  yang menggelitik setiap generasi untuk menyapanya walau hanya dari lembaran sejarah negeri ini.......sehingga membangkitkan kembali kenangan sesaat melintas dalam kehidupan mereka dan menyimak mereka bicara......mungkin tidak berarti apa-apa hanya sekedar catatan untuk memberikan kehormatan bagi yang berhak. 


                                                                                                                                (Dok/Tempo)
                                                                                  A Y  MOKOGINTA
                                                                                   Letnan Jendral TNI
(Kopral Kadet,KMA 1939, Kapten TKR 1945, Wkl Komandan KRU X Let Kol, Komandan Hijrah Divisi Siliwangi Let Kol, Komandan CPM Djawa Let Kol, Panglima Teritorium VII Let Kol, Anggota Fact Finding Commission, Komandan SSKAD/SESKOAD Kolonel, Command and General Staff College Fort Leavenworth Kansas USA Brigjend, Deputy Menpangad, Pangandahan Sumatera Mayjend, Dubes Luarbiasa dan berkuasa penuh untuk Mesir,Libanon,Sudan dan Maroko Letjend, Dirut PT. Tri Usaha Bhakti, Penggagas Forum Study dan Komunikasi AD, Anggota Yayasan lembaga Kesadaran Berkonstitusi, Penandatangan Petisi 50, wafat Th 1984 dimakamkan di Taman Pahlawan Kalibata Jakarta)


Menemui untuk mendengar pendapat maupun pemikiran beliau mengenai sesuatu hal tidaklah banyak, hanya  beberapa kali saja mengalaminya itupun saat sudah beranjak dewasa bahkan bekerja, tetapi buat saya  hal itu sudah cukup untuk mendapat gambaran sosok beliau seperti apa adanya.


Yang pertama pada tahun 1975 dalam status sebagai mahasiswa, kami (saya, Mu dan LJ) menemui  Bapak A Y Mokoginta di
rumahnya di jalan senayan bawah kebayoran baru..... rumah yang ukurannya jauh lebih kecil dibanding dari rumah sebelumnya di kompleks perwira tinggi Angkatan Darat jalan Lembang.... untuk meminta selain sumbangan dana juga saran-saran untuk kepergian kami dalam rangka mengikuti Mubes II KPMIBM di Kotamobagu.

Ditemui langsung oleh beliau yang senantiasa berbusana rapi dengan kumis tipis menghias diatas bibir raut mukanya penuh wibawa namun ramah sebagai orang tua,  tutur katanya jelas dan tegas maklum militer, ketika berbicara langsung fokus kepada masalah dan menguraikannya secara systematis manakala tahu tentang maksud kedatangan kami...... terlebih hal ini menyangkut tanah kelahirannya Bolaang Mongondow. 

 Ada 2 hal yang melekat dalam ingatan saya  ketika menyimak beliau bicara dalam pertemuan itu sebagai sebuah pesan kepada kami yaitu :
- Bahaslah masalah-masalah konkrit, yang langsung menyentuh pada kehidupan masyarakat
   Bolaang Mongondow.
- Beliau prihatin bahwa saat ini, mulai dari anak-anak sampai orang dewasa lebih banyak
   menggunakan bahasa melayu manado ketimbang bahasa Mongondow.
Ketika Mubes berlangsung di Kotamobagu keprihatinan beliau ini kami angkat dan menjadi salah satu keputusan Mubes II KPMIBM yaitu usulan kepada Kakandep Dikbud Bolaang Mongondow untuk memasukan bahasa Mongondow sebagai mata pelajaran di sekolah-sekolah.

Kemudian suatu sore ditahun 1981 bersama LFM kami menemui beliau karena adanya issue mengenai rencana penangkapan para penanda tangan petisi 50, ternyata beliau berkenan meluangkan waktu menerima kami berdua dengan tampilan seperti telah dikemukakan diatas dan menjawab dengan panjang lebar seketika mengetahui maksud kedatangan kami dan bahkan beliau juga menceritakan hal-hal lain dalam ingatan saya ketika menyimak beliau bicara seperti dibawah ini.
 - Kami ini (penanda tangan petisi 50) kalau dibilang macan adalah macan ompong karena kami
  semua tidak mempunyai gigi lagi (kekuasaan), kami hanya ingin mencoba meluruskan dan
  mengingatkan bahwa telah terjadi penyimpangan dalam praktek  pelaksanaan maupun
  pengamalan UUD dan Pancasila dimana keduanya telah dijadikan alat politik oleh pemerintah.
- Kemudian mengenai rencana penangkapan anggota petisi 50 beliau mengkonfirmasi memang 
  benar adanya bahkan beliau telah mempersiapkan koper berisi baju jika sewaktu-waktu dijemput, 
  hanya saja rencana itu ditentang keras oleh Menhankam/Pangab Jendral M Jusuf.
- Beliau juga bercerita bahwa mereka yang ada di pemerintahan adalah kawan-kawan 
  seperjuangan di masa lalu bahkan sebagian dari mereka adalah anak didiknya di Seskoad dan  
  sambil tersenyum beliau menyebut salah seorang pejabat yang prestasi akademiknya termasuk 
  yang ter....................
- Diakhir pembicaraan beliau sempat menyinggung mengenai Andi Aziz, yang menyerahkan diri 
  langsung kepada beliau secara pribadi dan oleh beliau diantar ke pemerintah pusat di Jakarta,
  sambil menghela nafas beliau seperti menyayangkan bahwa batas ultimatum yang ditetapkan 
  oleh pemerintah pusat telah terlampaui sehingga akhirnya Andi Aziz ditangkap dan diajukan 
  kehadapan mahkamah militer. 


Banyak peran beliau di kancah Nasional sepanjang perjalanan hidupnya sebagai pejuang yang bermula dari seorang kopral kadet KMA ditahun 1939 dan masuk menjadi anggota BKR bersama sama dengan karibnya A E Kawilarang (Lihat Biography A E Kawilarang :Untuk Sang Merah Putih) namun keduanya sempat berada dalam posisi berseberangan pada waktu pergolakan Permesta tapi tidak dalam hubungan pribadi.

Menjadi Komandan Hijrah Divisi Siliwangi dalam rangka mematuhi isi perjanjian Renville untuk mengosongkan kantong-kantong perjuangan di jawa barat melalui kereta api dan merupakan bagian dari 35 000 pasukan siliwangi yang harus hijrah, beliau disambut langsung bersama pasukannya oleh Panglima Sudirman di stasiun tugu yogyakarta, konon suasana kedatangan pasukan siliwangi ini menginspirasi Ismail Marzuki sehingga lahirlah lagu "sepasang mata bola" sebuah lagu romantis dengan latar belakang perjuangan. 

Presiden Soekarno ditahun 1957 pernah membuat suatu konsep keputusan untuk memberhentikan A H Nasution dan Gatot Soebroto dari jabatannya sebagai KSAD dan Wakil KSAD dan mengangkat Kolonel Sadikin dan Kolonel Mokoginta sebagai KSAD dan Wakil KSAD tapi hal itu tidak terlaksana dengan jatuhnya kabinet Ali Sastroamidjojo yang kemudian diganti oleh kabinet ekstra parlementer pimpinan Djuanda disusul diproklamirkannya PRRI di Sumatera pada Februari 1958.(Politik Militer Pada Masa Demokrasi Terpimpin/Hasan Group).

Sebagai Pangandahan Sumatera beliau membuat suatu konsep pembangunan sumatera secara menyeluruh dan dikenal sebagai Plan Mokoginta.........walau begitu beliau juga memperhatikan tuntutan masyarakat  menyangkut persoalan sosial budaya dan salah satu yang selalu dikenang oleh masyarakat sumatera timur khususnya orang-orang Melayu Langkat adalah  ketika beliau memprakarsai pemugaran makam  Amir Hamzah  yang oleh sastrawan HB Jassin dijuluki......... Raja Penyair Pujangga Baru.
Selesai pemugaran itu beliau berkata.... Lepaslah hutang pemerintah terhadap orang-orang Melayu Langkat yang mana selama ini menganggap pemerintah tidak ada perhatian terhadap makam Amir Hamzah karena Lekra/PKI  anti Amir Hamzah sebagai penyair.

Mengakhiri karier militernya dengan pangkat Letnan Jenderal TNI beliau  kemudian diangkat menjadi Duta Besar (Mesir,Sudan,Libanon,Maroko), selesai itu menjadi Direktur Utama PT Tri Usaha Bhakti sebuah perusahaan milik TNI Angkatan Darat kemudian menggagas berdirinya Fosko Purna Yudha dimana anggotanya terdiri dari purnawirawan pati yang berasal dari Brasildi (Brawijaya, Siliwangi, Diponegoro) dan dikemudian hari dibubarkan.......... selanjutnya masuk menjadi anggota Yayasan Lembaga Kesadaran Berkonstitusi dan ikut sebagai penandatangan petisi 50.

Berperan dibelakang layar dalam pendaratan Siliwangi di Bolaang Mongondow, anak Djogoegoe A P Mokoginta ini menghembuskan nafas terakhirnya  di RSPAD Jakarta, dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Mendapati nama-nama jalan yang  memakai nama -nama pejuang yang berasal daerah asalnya seperti Jl.Mayjen Sungkono di Surabaya, Ibrahim Adjie di Bandung, AH Nasution di Medan, Urip sumohardjo, Slamet Riyadi  di Solo, bahkan hampir di semua kota ada nama jalan Panglima Sudirman selain di Banyumas, berharap di suatu waktu ada nama jalan A Y Mokoginta didaerah asal kelahirannya Bolaang Mongondow, karena didaerah Sumatera banyak orang yang menyangka beliau berasal dari bugis Makassar.
Saya teringat ucapan Letjen Ibrahim Adjie ketika pada satu kesempatan bertemu beliau di tahun 1986.... "Nus orang pintar" jika tidak mengingat namanya saya menyangka dia orang sunda karena kefasihannya berbicara dengan bahasa sunda...........
wallahu 'alam al bis shawab.


                                                                                                                 Google.Doc

                                                                                   IBRAHIM ADJIE
                                                                                    Letnan Jendral TNI
 (Pendidikan militer Peta di Bogor, Seskoad, Army College Fort Benning USA, Danyon TKR 1 Depok 1945, KaStaf Resimen2 Bogor 1947,Wa Pang Sub  Teritorium VII Sumatera 1948, Gub.Militer Tapsel&Sumsel 1949,Komandan Resimen 2 Bukit Barisan 1952-1954,KaStaf Kodam II Bukit Barisan 1954-1956,
Atase Militer KBRI Beograd-Yugoslavia 1956-1959,Pangdam VI Siliwangi 1959-1966 Mayjend, Dubes Inggris 1966-1970 Letjend, Pengusaha, Wafat dan dimakamkan di TPU Blender, Bogor 1999) 


Suatu hari di tahun 1986, mertua saya minta ditemani menemui bekas atasannya....... dengan modal alamat dalam secarik kertas tertulis disitu PT K D A sebuah perusahaan yang terletak dibilangan Jakarta Pusat.
Tidak banyak yang diceritakan olehnya sepanjang perjalanan menuju ke alamat tersebut kecuali bahwa di tahun 1965/1966 ketika masih menjabat sebagai Wadan Pussen Art dengan pangkat Let.Kolonel di cimahi kala itu Panglimanya adalah orang yang akan ditemuinya saat ini.


Tidak sulit mencari alamat tersebut diatas dan dikantor tersebut kami hanya ditanya  apakah sudah buat janji untuk bertemu dan ketika dijawab ya, langsung saja kami dipersilahkan menuju ruang kantor yang terletak dilantai atas tanpa ditemani atau dikawal.
Membelakangi kami dan sedang menatap sesuatu dari balik jendela terlihat sosok cukup tinggi yang ketika mendengar langkah kami memasuki ruangannya langsung berbalik dan saat itu pula mertua saya memberi hormat kepada orang tersebut yang penampilannya sangat terjaga dengan baik, wajah tampannya masih terlihat jelas walau rambut dan kumisnya mulai memutih disertai senyum  ramah dan tampak sangat mengenali mertua saya dan langsung menyapa "Hei Ton apa kabar.... kurus kau sekarang" sambil menghampiri beliau menyalami dan kemudian memeluknya.
Ternyata orang itu adalah Ibrahim Adjie mantan Panglima Siliwangi yang disegani kawan maupun lawan, setelah
memperkenalkan saya, kemudian kami berdua dipersilahkan duduk sambil Pak Adjie menanyakan keadaan dan kegiatan Bapak sehari-harinya saat ini.

Keduanya kemudian terlibat percakapan mengenai berbagai hal dengan sesekali diseling memakai bahasa belanda dan tertawa jika ada hal-hal yang lucu dalam percakapan itu, dari sini saya bisa mengambil kesimpulan bahwa hubungan keduanya tidak hanya sebatas atasan dengan bawahan tapi lebih dari itu.
Diseling percakapan itu Pak Adjie sempat menanyakan pekerjaan selain nama saya, begitu mengetahui beliau seperti mengingat ngingat sesuatu.
Sepertinya Ibrahim Adjie kenal dekat dengan keluarga  A Y Mokoginta dan mempunyai hubungan pertemanan akrab jika ditilik dari bagaimana beliau menyebut almarhum dengan sebutan yang hanya familiar dilingkungan keluarga atau teman dekat jika mendengar komentarnya sebagai berikut.
"Nus orang pintar" jika tidak mengingat namanya saya menyangka dia orang sunda karena kefasihannya berbicara dengan bahasa sunda.
Percakapan antara keduanya  berlanjut  dengan lebih banyak membicarakan kejadian masa lalu sementara saya duduk diam menyimak pembicaraan keduanya terutama mengenai hal-hal yang menarik 


-  Ton kau yang buat pasukan...........pulang kandang kan ? tanya pak Adjie
+ Saya hanya melaksanakan perintah panglima (Ibrahim Adjie) "Jaga Kandang, Tunggu Komando" jawab bapak
- Itu Perintah Panglima Tertinggi (Bung Karno)  kepada saya tukas pak Adjie dan yang terakhir karena kemudian 
   BK sibuk melakukan langkah-langkah politis, harus diakui bahwa BK adalah  negarawan besar yang tidak 
   mau melihat negeri ini hancur karena perang saudara.  
   Kemudian Pak Adjie melanjutkan ceritanya,  sebelum saya menyerahkan jabatan Panglima Siliwangi saya menemui 
   pak Harto karena saya ingin mengetahui pandangannya terhadap diri saya selain meminta jaminan atas beberapa hal.
   Setelah mendapat penjelasan dan jaminan dari pak Harto, saya kemudian pamit pulang dan pak Harto mengantar saya 
   sampai di mobil, sesuatu yang tidak biasa mengingat kedudukannya pada waktu itu....tidak lama berselang saya 
   kemudian melakukan serah terima jabatan Panglima Siliwangi kepada H.R.Dharsono.
   Dari perwira intel saya sudah mengetahui kalau Kolonel Latief menemui pak Harto di RSPAD, tapi saya tidak mau
   menduga - duga atau mengkait-kaitkannya dengan peristiwa G30S/PKI karena mungkin saja dia hanya sekedar 
   membezoek anak bekas atasannya yang sakit.

 Dikemudian hari apa yang diceritakan oleh Ibrahim Adjie seperti pertemuan Kolonel Latief dengan pak Harto di RSPAD      
 menjadi pembicaraan umum walau versinya sudah ditambah-tambah.


Demikianlah yang masih teringat oleh saya ketika bertemu dengan mantan Panglima Siliwangi...... dan dalam pandangan saya beliau  adalah seorang militer sejati yang tidak begitu menyukai politik, loyalis Soekarno sekaligus anti komunis itu mencoba berdiri digaris netral ketika eskalasi konflik politik antara BK dan Soeharto (Angkatan Darat) semakin meningkat dan mengingatkan kepada siapapun untuk tidak mengadakan kegiatan aksi baik itu sipil maupun militer di wilayah Kodam Siliwangi tanpa sepengetahuan maupun izinnya...... hal ini dikemudian hari terbukti dapat  meminimalisir ekses-ekses peristiwa  G30S/PKI agar tidak menjadi ajang balas dendam seperti yang terjadi  di Jawa Tengah maupun Jawa Timur dengan korban ribuan orang.
Ketika kami berdua pamit pulang beliau sempat berkata seperti menawarkan "Saya punya konsesi batu di Rangkasbitung yang belum dikelola", mertua hanya menjawab terima kasih sedang saya hanya berdiam diri karena memang tidak terlintas 
sedikitpun oleh kami untuk memanfaatkan hubungan ini menjadi hubungan bisnis karena tujuannya datang menemui beliau hanya untuk bersilaturrahmi. 

Sejarah negeri ini memang penuh dinamika....ada rentang waktu tertentu ketika kemanusiaan dibelenggu sedemikian rupa oleh politik untuk tujuan merebut, mempertahankan, dan melanggengkan kekuasaan..... mengakibatkan sebagian anak negeri ini harus menanggung dosa warisan baik itu dari orang tuanya, keluarganya, teman dan lain sebagainya karena mempunyai keterkaitan maupun dikait-kaitkan dengan organisasi terlarang seperti PKI termasuk sub organisasinya.
Demikian juga mereka yang mengkritisi, mengkoreksi, mengingatkan adanya penyimpangan terhadap UUD 45 dan ideologi Pancasila dalam penyelenggaraan negara..... harus menerima konsekwensi dieliminasi dari kehidupan atau mungkin tepatnya dipasung hak-hak nya sebagai warga negara dari kehidupan di negaranya sendiri.......ironi memang tetapi itulah fakta yang terjadi.

 Ujung Aspal 10 November 2012
 



Kamis, 28 Juni 2012

Provinsi Bolaang Mongondow Raya Suatu Keniscayaan Ditengah Akulturasi Budayanya

                                PROVINSI BOLAANG MONGONDOW RAYA 
               SUATU KENISCAYAAN DITENGAH AKULTURASI BUDAYANYA     


Sejarah Bolaang Mongondow tidak pernah dapat dibaca secara utuh karena hanya merupakan fragmentasi  fragmentasi lepas bagai puzzle yang masih berserakan dan belum semuanya bisa dirangkai karena banyak bagian-bagian yang belum ditemukan fakta sejarahnya..... sedang yang adapun masih patut dipertanyakan otentisitasnya terutama bagian-bagian yang berbaur antara cerita, asumsi, interpretasi dan mitos-mitos irrasional.

Mengikuti fragmentasi sejarah sejak " singog in lipu' molantud " sampai saat ini, entah sudah berapa kali terjadi akulturasi budaya pada masyarakat Bolaang Mongondow......apakah itu akibat pengaruh budaya lain atau pengaruh perubahan yang terjadi dalam bidang politik, sosial, ekonomi, agama..... yang semua itu kemudian perlahan tapi pasti menggerus eksistensi budaya mongondow itu sendiri dari masa ke masa.   

Kompleksitas kehidupan masa kini yang membuat ongkos sosial, pendidikan, kesehatan, hukum, politik dan birokrasi semakin tinggi.... merupakan rangkaian akibat dari pola hidup konsumtif, suka pamer, jaim, life style, gila hormat, serakah, birokrasi bertele-tele, pemimpin yang tak kompeten, penegakan hukum yang lemah, politik uang........yang bermuara dalam membentuk perilaku koruptif pada sebagian aparat dan masyarakat, dan imbasnya membentuk perilaku pragmatis dengan kecenderungan apatis  pada sebagian masyarakat lainnya.
Jika perilaku yang pertama mengakibatkan degradasi nilai-nilai budaya, sedang perilaku lainnya mempunyai kecenderungan melakukan pembiaran atas nilai-nilai budaya yang ada di masyarakat.                                                                                                
Tidak heran jika kemudian ada yang mempertanyakan kemana adat istiadat maupun tradisi yang dulu merupakan bagian dari kehidupan masyarakat Bolaang Mongondow, utamanya 2 bulan terakhir ini............. oleh perempuan -perempuan cerdas yang punya kepedulian seperti Resensator Rahmi Hattani dan Penulis masalah sosial Rukmina Gonibala Manoppo.

Pertanyaan yang lebih spesifik pernah saya ajukan pada almarhum  Bpk Ismail Tolat tahun 1976 di Jakarta 
- Ama' aka adat diadon pakeon, yo ukaton koonda ?
+Kong gina, pais aka moondoq koliongan sedang bahasa (mongondow) musti bi' ko dia dia.... ba 
  kotaawan intau ibanya.......iko intaw bi' mongondow, yo pakean na' sunting, pomama'an, kabela, 
  daing, lambung bo ibanya mako.....bakut takin pusi' mobudo'.....ukat bo tagu' kon baloi molantud
  ba' koontongan adi' bo ompu .....sin tua barang mopia....pinake guehanga kolabung mako.
demikian jawaban beliau saat itu.

Di tahun 1975 almarhum Bpk. A Y Mokoginta menyatakan keprihatinannya bahwa orang mongondow (dewasa dan anak-anak) sekarang lebih banyak menggunakan bahasa melayu manado ketimbang bahasa mongondow.
Keprihatinan ini kemudian melahirkan salah satu keputusan Mubes II KPMIBM di Kotamobagu Th,1975 berupa desakan kepada Pemda Tk II Bolmong qq Kakandep Dikbud untuk menjadikan bahasa mongondow sebagai mata pelajaran disekolah-sekolah.

Dari pertanyaan dan keprihatinan diatas ada kekhawatiran bahwa selain adat istiadat, tradisi, ternyata ada potensi ancaman kehilangan yang lebih besar  yaitu (Bahasa Mongondow) jati diri orang mongondow yang jika ini lenyap maka lenyap juga apa yang dikenal sebagai suku bangsa mongondow selama ini.

Kekhawatiran lain yang timbul dari kompleksitasnya kehidupan saat ini adalah potensi lahirnya budaya kekerasan..... sebut saja salah satunya adalah proses politik dalam pemilu maupun pilkada dimana filosofis masyarakat mongondow yang terkristal dalam semboyan "mototabian, mototanoban, mototompiaan" menjadi terabaikan, terlupakan, bahkan berubah menjadi "mobobayowan, mososiba'an, mososibatan" ketika akar rumput para pendukung calon atau partai saling berhadap-hadapan di panggung-panggung kampanye.

Provinsi Bolaang Mongondow Raya adalah suatu keniscayaan,  karena disana digantungkan banyak harapan atas masa depan daerah dan kehidupan yang lebih baik......tapi tidak diatas reruntuhan budayanya.....sulit membayangkan jika peresmiannya nanti dibacakan salamat memakai bahasa melayu manado, dan para tamu disambut oleh goyang dang dut dengan iringan organ tunggal dan akhir acara ditutup dengan tawuran antara pendukung para bakal calon gubernur.

Ironis memang jika itu yang terjadi walau tentu tidak kita harapkan, perlu keteladanan dari para pemimpin formal maupun informal disegala lapisan masyarakat agar memberikan contoh bagaimana berdemokrasi yang sehat, bagaimana mengimplementasikan bahasa dan semboyan dalam kehidupan sehari-hari, menjaga dan mengajak masyarakat untuk berpartisipasi dalam melestarikan budaya yang ada.......dan jika ini dapat diwujudkan maka bolehlah kita menafikan kekhawatiran tersebut diatas dan tersenyum membayangkan cerahnya masa depan generasi yang akan datang.....berbekal pendidikan dan ilmu pengetahuan  mereka mempunyai kesempatan  menduduki puncak-puncak karir di pemerintahan atau lembaga......baik ditingkat kabupaten/kota, provinsi  maupun nasional bersaing dengan suku bangsa lainnya sebagai bagian dari bangsa Indonesia dengan menyandang jati diri sebagai putera dan puteri Bolaang Mongondow menggantikan jejak leluhurnya...para Bogani yang dulu berkuasa dari atas puncak-puncak bukit seperti.....tudu in bumbungon, tudu in sia', tudu in passi, tudu in lombagin dll.

Ujung Aspal 280612



   

Selasa, 26 Juli 2011

Ketika Bougenville Berbunga

Semua berawal dari keinginan beberapa bulan lalu untuk menempatkan bunga-bunga diatas pelat beton penutup saluran didepan rumah agar ada nirmana yang padu........kombinasi elemen buatan manusia dengan sesuatu yang alamiah diharapkan dapat menciptakan harmony pada lingkungan disekitarnya paling tidak membuat perubahan suasana kearah lebih baik dari sebelumnya.
Bukan tanpa alasan ketika memilih bunga bougenville, tapi bunga yang juga dikenal dengan sebutan bunga kertas ini memang mudah memeliharanya, indah warna bunganya dan rimbun sehingga nyaris daun daunnya hampir tak terlihat ketika bunganya bermekaran sehingga warna bunga itu akan mendominasi tumbuhan itu sendiri maupun yang ada disekitarnya sehingga membuat suasana baru yang lebih berwarna.
 
Entah sudah berapa kali bunga bougenville mekar kemudian gugur kemudian bertunas lagi dan akhirnya mekar kembali melewati waktu dengan berbagai peristiwa yang terjadi di seantero dunia ini.
Seperti tidak ada hubungan antara satu peristiwa dengan peristiwa lain demikianlah kehidupan ini berlangsung dalam cluster-cluster kecil, sedang dan besar, dari semua makhluk di bumi ini, dimana peran paling dominan tentu saja adalah manusia sebagai makhluk yang dikaruniai akal dan pikiran sehingga andilnya juga paling besar dalam membuat perubahan tidak hanya kearah kebaikan tapi juga kerusakan.

Ketika bougenville berbunga........tsunami melanda sebahagian jepang dan memporak porandakan  infrastrukturnya termasuk instalasi nuklir negeri sakura itu dengan korban manusia tak hanya berbilang riibuan bahkan mungkin puluhan ribu......wallahu a'lam bis shawab.
Sebagai negara yang dibangun oleh tenaga-tenaga profesional tangguh dan teknologi tinggi dalam menghadapi berbagai fenomena alam seperti gempa bumi, tsunami, angin badai dsb, tentu saja rancang bangun nya mengambil asumsi-asumsi yang memuat dimensi materi, ruang dan waktu berbekal dari pengalaman empiris  atas peristiwa sejenis dimasa lalu, namun setiap kali manusia diingatkan akan keterbatasannya dalam memakai asumsi-asumsi terbatas menghadapi kemungkinan tak terbatas seperti fenomena alam jika kita enggan menyebutnya sebagai kehendak Yang Maha Kuasa.

Kemungkinan kedepan asumsi-asumsi diatas akan terus bergeser karena disinilah tantangan sebenarnya dari science dan teknologi, dan jepang dengan kultur bushido (jiwa ksatria) yang pantang menyerah akan selalu berusaha mengatasinya........... hanya saja diperlukan kearifan serta pemikiran bijak dalam mengelola dan mencari alternatif-alternatif penyelesaiannya......... mungkin kecenderungannya lebih pada mensiasati alam ketimbang menantangnya, ini sudah jauh lebih baik dari pada pasrah tanpa berbuat apa-apa menunggu peristiwa tersebut berulang kembali dengan kemungkinan kapasitas dan korban jauh lebih besar......hal mana dapat menjadi pembelajaran bagi bangsa-bangsa lain yang pernah mengalaminya termasuk negeri tercinta ini.

Ketika bougenville berbunga...........Osama bin Laden tewas ditembak di Abbotabad Pakistan  oleh satuan elite militer Amerika Serikat yang dikomandoi langsung oleh Presiden Barrack Obama..... suatu perburuan panjang sebuah negara superior terhadap seorang yang dianggap paling bertanggung jawab atas serangan 11 September 2001 dengan keberhasilannya menembus system pertahanan Amerika sekaligus  mempermalukannya karena peralatan yang dipakai milik negara itu sendiri.

Sejak  masuk ke dalam kancah perang afghanistan di tahun 1979..........Osama terbiasa berdekatan dengan maut, melihat tangis dan penderitaan, menyaksikan kekerasan yang lebih mendekati kebrutalan terhadap saudara-saudara muslimnya, semua itu membuka matanya sekaligus membuatnya mengerti, memahami dan prihatin terhadap politik yang   melatar belakangi kepentingan suatu bangsa seperti Amerika dan sekutu baratnya atas resources negara-negara muslim seperti uranium di Afghanistan, minyak di Negara2 Arab,Irak, Iran, Sudan, selain mengeruk  keuntungan dari penjualan senjata atas konflik yang diciptakan, serta perilaku mendua dalam persoalan Palestina.....untuk semua  ini sepertinya nyawa saudara-saudara muslimnya tidak ada harganya.

Dari yang semula hanya mencari syahid sebagai syuhada dalam membantu saudara-saudara muslimnya di Afghanistan menghadapi invasi soviet, akhirnya Osama terobsesi untuk membuat agenda perangnya sendiri melalui organisasi yang didirikannya yaitu Al-Qaeda,  dan mengartikan perjuangannya sebagai jihad menurut tafsirnya sendiri.....kemudian dilanjutkan dengan mengirim pesan dalam bentuk teror agar siapapun hendaknya dapat berlaku adil terhadap negara-negara muslim atau yang berpenduduk muslim tanpa terkecuali.

Disini Osama tidak memperhitungkan bahwa tidak ada sesuatu apapun yang bisa dijadikan bargaining ketika hanya dengan militansi menyatakan perangnya kepada Amerika dan sekutu baratnya melalui teror,
dilain pihak Amerika Serikat dengan sekutu baratnya menunjukan kepada dunia peri laku seperti teroris ketika semua alasan untuk menyerang Afghanistan, Iraq tidak terbukti..... justeru yang mengemuka adalah kepentingan terhadap resources negara-negara tersebut diatas.......disamping pembiaran kepada Israel dalam hal Palestina terutama ketika Israel menyerang jalur gaza dengan persenjataan mutakhir termasuk penggunaan pesawat tempur dengan korban penduduk sipil termasuk anak-anak yang tidak berdosa.

Ketidak adilan selalu menimbulkan perlawanan.....sedang radikalisme timbul akibat terputusnya/diputuskannya seluruh saluran komunikasi..... padahal komunikasi bisa berlangsung jika ada kesetaraan......kesetaraan berarti pengakuan.......suatu hal yang sangat amat tidak mungkin untuk didapatkan oleh Al-Qaeda walau harus diakui esensi perjuangannya melawan ketidak adilan ada benarnya, tapi cara-cara yang digunakan tidak dapat dibenarkan, tafsir jihadnya tidak berkesesuaian dengan Al-Qur'an dan Sunnah Rasul, tidak ada kontrol terhadap jaringan organisasinya menyebabkan tafsir jihadnya berkembang tak terkendali, seperti yang terjadi di negeri ini dimana teror sudah masuk ke tempat suci ummat Islam seperti mesjid, korban2nya juga tidak pandang bulu termasuk ummat Islam itu sendiri.

Sebagian besar dunia Islam mengutuk radikalisme dalam bentuk teror seperti yang dilakukan oleh Osama dan pengikut-pengikutnya karena menimbulkan citra Islam sebagai agama yang mentolerir teror dan kekerasan, bahkan menurut sebuah sumber di barat ada aksioma yang berbunyi bahwa tidak semua muslim adalah teroris tetapi semua teroris adalah muslim......jika dicermati aksioma ini bagian dari propaganda dalam menggiring opini, menggalang dukungan, memutar balikan fakta untuk menyudutkan, menghambat, menebarkan kebencian kepada Islam dan ini bagian dari strategy untuk mendapatkan check kosong agar dapat menginvasi negara-negara muslim yang kaya dengan sumber daya energy.

Ini merupakan pekerjaan rumah bukan hanya bagi para ulama tetapi muslim keseluruhan untuk mengembalikan citra Islam sebagai agama Rahmatan Lil Alamien (Rahmat bagi semesta alam) disamping membawa kembali saudara-saudara muslim kita dari jalan-jalan yang tidak berkesesuaian dengan Al-Qur'an dan Sunnah Rasul...... sebab tidak ada kata terlambat, karena manusia itu tidak seperti yang terlihat, yang terdengar, atau yang terbayang, karena sifat dan sikap manusia mengikuti situasi dan kondisi yang dialaminya, segalanya serba tidak tetap dan berubah-ubah.

Ketika Bougenville berbunga.......Anak negeri ini dipancung di Arab Saudi

Ketika Bougenville berbunga.......Korupsi tak ada habis-habisnya melanda negeri ini

Ketika Bougenville berbunga.......Presiden negeri ini sedang sibuk mengurusi partainya ketimbang bangsanya


Entah sampai kapan Bougenville terus berbunga.......entah peristiwa2 apa pula yang akan terjadi mengiringinya........Wallahu  A'lam bis Shawab.

Ujung Aspal, Juli 2011







 


.









Jumat, 11 Maret 2011

KHUTBAH TERAKHIR




                                             KHUTBAH TERAKHIR 
                                      NABI MUHAMMAD S.A.W
                  
      Wahai manusia, dengarlah baik-baik apa yang hendak kukatakan.
             Aku tidak mengetahui apakah aku dapat bertemu lagi  dengan
          kamu semua selepas tahun ini. 
          Oleh karena itu  dengarlah dengan teliti kata-kataku ini dan 
          sampaikanlah ia kepada orang-orang yang tidak dapat hadir disini
          pada hari ini.

          Wahai manusia, seperti mana kamu menganggap bulan ini dan kota 
          ini sebagai suci, maka anggaplah jiwa dan harta setiap muslim 
          sebagai amanah suci.

          Kembalikanlah harta yang diamanahkan kepada kamu kepada 
          pemiliknya yang berhak.
         
          Jangan kamu sakiti siapapun agar orang lain tidak menyakiti kamu
          lagi.
          Ingatlah bahwa sesungguhnya kamu akan menemui Tuhan kamu
          dan Dia pasti membuat perhitungan diatas segala amalan kamu.

          Allah SWT telah mengharamkan riba, oleh karena itu segala urusan
          yang melibatkan riba dibatalkan mulai sekarang.

          Berwaspadalah terhadap syaitan demi keselamatan agama kamu.
          Dia telah berputus asa untuk menyesatkan kamu dalam perkara-
          perkara besar, maka berjaga-jagalah supaya kamu tidak mengikuti-
          nya dalam perkara-perkara kecil.

          Wahai manusia, sebagaimana kamu mempunyai hak atas isteri 
          kamu, mereka juga mempunyai hak diatas kamu.
          Sekiranya mereka menyempurnakan hak mereka keatas kamu 
          maka mereka juga berhak untuk diberi makan dan pakaian dalam
          suasana kasih sayang.                            

          Layanilah wanita-wanita kamu dengan baik, berlemah lembutlah 
          terhadap mereka karena sesungguhnya mereka adalah teman dan 
          pembantu kamu yang setia.
          Dan hak kamu atas mereka ialah mereka sama sekali tidak boleh 
          memasukan orang yang tidak kamu sukai kedalam rumah kamu dan
          dilarang melakukan zinah.

          Wahai manusia, dengarkanlah dengan sungguh-sungguh kata-
          kataku ini, sembahlah Allah SWT, dirikanlah sholat lima kali sehari,
          berpuasalah di bulan Ramadhan, dan tunaikan zakat dari harta 
          kekayaan kamu, kerjakanlah ibadah haji sekiranya kamu mampu.
          Ketahuilah bahwa setiap muslim adalah saudara kepada muslim 
          yang lain.
          Kamu semua adalah sama, tidak ada yang lebih mulia dari yang
          lainnya kecuali dalam taqwa dan beramal sholeh.

          Ingatlah bahwa kamu akan menghadap Allah SWT pada suatu hari
          untuk mempertanggung jawabkan atas segala apa yang kamu 
          kerjakan.
          Oleh karena itu awaslah agar jangan sekali-kali kamu keluar dari
          landasan kebenaran selepas ketiadaanku.

          Wahai manusia, tidak akan ada lagi Nabi dan Rasul yang akan 
          datang selepasku dan tidak akan lahir agama baru.
          Oleh karena itu wahai manusia, nilailah dengan betul dan fahamilah
          kata-kataku yang telah aku sampaikan kepada kamu.

          Sesungguhnya kepada kamu aku tinggalkan dua perkara, yang seki-
          ranya kamu berpegang teguh dan mengikuti kedua-duanya, niscaya
          kamu tidak akan tersesat selama-lamanya itulah Al Qur'an dan 
          Sunnahku.

          Hendaknya orang-orang yang mendengar ucapanku, 
          menyampaikan pula kepada orang lain semoga yang terakhir lebih  
          memahami kata-kataku dari mereka yang langsung mendengar 
          dariku.

          Saksikanlah Ya Allah, bahwasanya telah kusampaikan risalah MU
          kepada hamba-hamba Mu.




          ( Khutbah ini disampaikan pada tanggal 9 Dzulhijah Tahun 10 Hijrah
            di Padang Arafah.)


           
             Pondok Artha, Maret 2011






Selasa, 08 Maret 2011

KOMUNITAS PEMBAHARUAN


Dari sekian banyak motivator di negeri ini, banyak sekali pembelajaran kita dapati sebut saja salah satunya dari seorang Mario Teguh dimana seiring berjalannya waktu beliau bukan hanya menempatkan dirinya sebagai motivator tetapi juga sebagai inspirator bagi komunitasnya atau bahkan mereka diluar komunitas itu sendiri sehingga tidak ada salahnya kalau kita sebut semua yang terlibat atau dilibatkan maupun melibatkan itu baik langsung maupun tidak langsung sebagai komunitas pembaharuan......terikat dalam bingkai formalitas namun penuh elastisitas sebagai jalan pintas untuk memberi dan menerima paradigma baru........ketika kebanyakan dari kita tidak menyisakan waktu  untuk menyelam kedalam relung relung kehidupan dengan mengendarai akal, pikiran,  perasaan dan hati yang nota bene telah disediakan oleh Yang Maha Kuasa akibat terkungkung kompleksitas problematika hidup......karena hidup itu sendiri adalah bagian dari proses belajar mengajar disadari atau tidak yang jarang kita evaluasi ketika kita melangkah padahal setiap saat suatu nilai dapat berubah oleh banyak sebab di kehidupan ini.

Penampilannya secara keseluruhan dalam setiap acara yang dibawakannya diberbagai media merupakan daya tarik tersendiri sehingga siapapun tanpa disadari akan terbawa hanyut dalam antusiame untuk memperhatikan setiap kata yang beliau ucapkan dimana terkadang bertolak belakang dengan paradigma yang telah lama hidup dan berlaku dimasyarakat.

Berangkat dari hal-hal yang normatif secara universal didalam  kemanusiaan seperti kebaikan, kesantunan, kebenaran, kebijaksanaan, keberanian, kehormatan.......kemudian bergeser ke proses pembelajaran seperti usaha, kemauan keras, semangat,  pengembangan diri, pengambilan keputusan.......akhirnya beliau masuk ke ranah ke Tuhanan ketika disadari bahwa tidak ada satu konsep apapun yang dapat menjamin keberhasilan karena kesemuanya tidak terlepas dari  campur tangan Tuhan.

Bak oase bagi musafir yang dahaga itulah kira-kira perumpamaan bagi beliau, tapi itupun kita diminta mencari sumber air oase dan tidak seketika meminumnya sebelum memastikan bahwa airnya benar-benar jernih.......oase pemikirannya merupakan alternatif  dalam mengarungi gurun kehidupan karena membuka jalan menuju oase berikutnya agar senantiasa mempunyai bekal berlimpah guna berbagi kepada yang membutuhkannya pertanda syukur kepada Yang Maha Kuasa serta mengingatkan untuk tidak kembali  melalui jalan-jalan lama yang panjang berliku melelahkan dan menghabiskan umur karena sibuk  mencari  bekal tanpa pernah bisa menikmati perjalanan itu sendiri apalagi bersyukur dan bertafakur sebab beban di perjalanan semakin hari semakin berat.

Beliau juga menyayangkan bahwa  masyarakat kita menilai sukses baru sebatas segi materi dengan tidak mempersoalkan proses pencapaiannya maka yang muncul adalah "tujuan menghalalkan cara" seperti korupsi, kolusi, manipulasi dsb dengan korban kepentingan rakyat banyak atau orang lain bahkan tidak hanya sampai disitu karena berdampak pula pada tatanan hukum yang ada.........padahal sukses sebenarnya adalah ketika seseorang dapat melakukan pencapaian melebihi dari pencapaian sebelumnya dengan melalui suatu proses baik dan benar,  sedang materi dan sebagainya merupakan konsekwensi logis yang mengikuti pencapaian itu sendiri.

Dengan mengkategorikan orang kaya sebagai orang baik yang kaya dan orang kaya yang tidak baik,
menunjukan  kesantunan beliau dalam mengajak........ tanpa ada kecenderungan menggurui..... karena berharap agar yang baik menjadi bertambah baik dan yang tidak baik menjadi baik.

Diusia 55 tahun pada tanggal 5 Maret 2011, Mario Teguh terlihat sebagai orang muda berusia tua di komunitasnya yang kebanyakan berisi orang tua berusia muda, mudah2an  kedepan akan lebih banyak orang muda dengan beragam usia.


Ujung aspal, February 2011